Ada tempat-tempat yang kita kenal bukan karena sengaja kita datangi sebagai wisatawan, melainkan karena ia tumbuh bersama perjalanan hidup kita. Desa Waitukan adalah salah satunya. Bagi saya, Waitukan bukan sekadar nama sebuah desa di Kecamatan Adonara Barat. Desa itu adalah bagian dari jejak langkah masa kecil, tempat singgah ketika lelah, sekaligus ruang kenangan yang hingga hari ini masih tersimpan utuh dalam ingatan.
Interaksi saya dengan Waitukan bermula di Dusun Waitenepang. Saat itu saya yang masih kecil dan belum usia sekolah menemani orangtua yang bekerja di kebun kelapa. Letak kebun yang tidak terlalu jauh dari Waitenepang membuat saya cukup akrab dengan suasana dusun tersebut. Seusai bekerja, atau ketika matahari mulai condong ke barat, kami sering singgah ke rumah kerabat. Di sana ada rumah-rumah sederhana dengan halaman yang lapang, sapaan hangat dari orang-orang yang ditemui, serta suasana kampung yang tenang menjadi bagian dari pengalaman yang membekas. Kami menemui dan bercengkrama dengan kerabat kami hanya pada momen-momen tertentu yang istimewa.