Info&tanya jawab

Sabtu, 10 Juni 2023

Waitukan Dalam Jejak Langkah: Desa Yang Selalu Dilewati, Tak Pernah Ditinggalkan

Ada tempat-tempat yang kita kenal bukan karena sengaja kita datangi sebagai wisatawan, melainkan karena ia tumbuh bersama perjalanan hidup kita. Desa Waitukan adalah salah satunya. Bagi saya, Waitukan bukan sekadar nama sebuah desa di Kecamatan Adonara Barat. Desa itu adalah bagian dari jejak langkah masa kecil, tempat singgah ketika lelah, sekaligus ruang kenangan yang hingga hari ini masih tersimpan utuh dalam ingatan.
Interaksi saya dengan Waitukan bermula di Dusun Waitenepang. Saat itu saya yang masih kecil dan belum usia sekolah menemani orangtua yang bekerja di kebun kelapa. Letak kebun yang tidak terlalu jauh dari Waitenepang membuat saya cukup akrab dengan suasana dusun tersebut. Seusai bekerja, atau ketika matahari mulai condong ke barat, kami sering singgah ke rumah kerabat. Di sana ada rumah-rumah sederhana dengan halaman yang lapang, sapaan hangat dari orang-orang yang ditemui, serta suasana kampung yang tenang menjadi bagian dari pengalaman yang membekas. Kami menemui dan bercengkrama dengan kerabat kami hanya pada momen-momen tertentu yang istimewa.
Namun, sebenarnya hubungan saya dengan Waitenepang terjalin jauh setelah itu. Saat beranjak di usia sekolah dasar hingga sekolah menengah, saya sering melewati desa ini ketika hendak menuju Pasar Waiwadan. Perjalanan itu bukan perjalanan yang mudah. Kami berjalan kaki sejauh dua hingga tiga kilometer sambil mengangkut hasil bumi dari kebun-kebun di wilayah sekitar.
Pisang menjadi salah satu komoditas yang paling sering dibawa. Buah-buah pisang kepok terbungkus kain serbet kami junjung dengan penuh kehati-hatian. Langkah kaki kecil kami menyusuri jalan menuju pasar Waiwadan dengan harapan barang dagangan kami tersebut habis terjual dan dapat membantu memenuhi kebutuhan keluarga.
Dalam perjalanan itulah Waitenepang menjadi tempat yang akrab dipandang mata. Letaknya yang berada dekat jalan aspal menjadikan desa ini seperti simpul kecil aktivitas ekonomi masyarakat sekitar. Dari wilayah dataran hingga perbukitan yang berdekatan, para petani berdatangan membawa hasil ladang dan kebun.
Di titik desa Waitukan, kendaraan roda empat kerap berhenti untuk mengambil barang dagangan masyarakat. Kemiri, pisang, kelapa, jagung, ubi, dan berbagai hasil bumi lainnya dikumpulkan sebelum dibawa menuju pasar Waiwadan. Bagi banyak petani, Waitukan bukan hanya desa yang dilewati. Desa ini adalah tempat bertemunya harapan akan kemudahan perjalanan ke Pasar Waiwadan. Bahkan jika tidak ada kendaraan, perjalanan terus dilanjutkan hingga ke Waiwadan yang juga sebagai ibukota kecamatan.
Saya masih mengingat bagaimana kami keluarga petani naik ke atas bak truk bersama barang-barang hasil kebun. Wajah-wajah yang dibakar matahari itu menyimpan optimisme sederhana: semoga hasil panen laku terjual. Anak-anak duduk meringkuk di antara tumpukan hasil bumi. Orang dewasa saling bertukar cerita. Ada yang membicarakan musim tanam, harga komoditas, hingga kabar keluarga. Pemandangan seperti itu dahulu sangat lazim ditemui.
Selepas dari pasar, perjalanan pulang bisa menyusuri jalur yang sama. Kadang kami melewati Waitenepang lagi. Namun tidak jarang pula memilih jalur lain melalui Desa Homa. Bagi anak-anak kampung pada masa itu, berjalan kaki bukanlah sesuatu yang luar biasa. Jalan panjang justru menjadi ruang belajar tentang kehidupan: tentang kerja keras orang tua, tentang arti kebersamaan, dan tentang bagaimana sebutir hasil panen diperoleh dengan perjuangan.
Waktu terus berjalan. Zaman berubah. Teknologi berkembang. Jika dahulu perjalanan dilakukan dengan berjalan kaki atau menumpang truk, kini masyarakat lebih mudah bergerak dengan kendaraan pribadi roda dua. Jarak yang dulu terasa jauh kini dapat ditempuh dalam waktu singkat. Namun, di tengah berbagai perubahan itu, ada satu hal yang terasa tetap sama. Jalur yang puluhan tahun lalu saya lintasi belum banyak berubah. Jalan tanah itu masih ada di sana.
Saat musim kemarau, debu beterbangan mengikuti laju kendaraan. Ketika hujan turun, sebagian ruas berubah menjadi licin dan berlumpur. Seolah waktu berjalan lebih lambat di tempat itu. Kadang-kadang, beberapa roda dua melintas di antara genangan lumpur berair dan mencipratkan air ke rerumputan sekitar.
Memang di dalam wilayah pemukiman telah muncul sejumlah jalan dan lorong di yang mempermudah mobilitas warga di dalam desa. Namun akses utama yang dahulu menjadi saksi langkah kaki para petani kecil masih mempertahankan wajah lamanya. Bagi sebagian orang, itu mungkin sekadar jalan tanah biasa. Tetapi bagi saya, jalan itu adalah lorong kenangan. Perjalanan waktu dan jaman seolah berhenti di tempat itu.
Di atas jalan itulah saya pernah menjunjung pisang menuju pasar. Di atas jalan itu pula saya melihat petani-petani bekerja keras demi keluarga mereka yang kini telah bekerja dalam beragam profesi yang lainnya. Jalan itu menjadi saksi bisu tentang ketekunan masyarakat desa dalam menjalani kehidupan sehari-hari.
Waitenepang telah mengajarkan bahwa kemajuan tidak selalu diukur dari megahnya bangunan atau mulusnya jalan. Kemajuan juga hadir dalam kemampuan masyarakat menjaga semangat gotong royong, mempertahankan keramahan, dan terus bekerja keras meski dengan segala keterbatasan.
Hari ini, ketika saya kembali melintasi Waitenepang, yang saya lihat bukan hanya sebuah desa yang berada di pinggir jalan. Saya melihat kembali anak kecil yang berjalan menuju pasar dengan beban pisang di atas kepalanya. Saya melihat para petani yang menumpang truk dengan harapan sederhana. Saya melihat kerabat yang membuka pintu rumah bagi siapa saja yang singgah.
Waitukan mungkin telah berubah dalam beberapa hal. Namun bagi saya, desa itu tetap sama: sebuah persinggahan yang akrab, tempat kenangan tumbuh bersama perjalanan hidup.
Dan barangkali, selama jalan tanah itu masih ada, selama para petani masih mengangkut hasil kebun mereka dengan penuh harapan, Waitenepang akan terus hidup bukan hanya sebagai sebuah nama di peta, melainkan sebagai bagian dari cerita yang tak pernah selesai untuk dikenang.
Comments
0 Comments

Tidak ada komentar:

Posting Komentar